www.sambas.go.id

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
COVID19

Eksistensi Musik Tradisional Tanjidor

E-mail Cetak PDF

Tetap Eksis, Meski Susah Regenerasi

Namun guna menjaga kelestariannya, pemain musik yang rata-rata berusia tua, mengakui memang susah dalamhal melakukan regenarasi. Karena remaja yang ada sekarang ini lebih melirik masuknya musik pop atau musik modern lainnya. Dengan berbagai usaha, memang dilakukan untuk tetap melestarikan keberadaan musik tradisional ini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengajak anak atau saudara pemain musik yang sekarang ini untuk berlatih dan menggeluti aliran musik ini. Setidaknya hal yang dilakukan dapat memberikan apresiasi dari adanya musik tanjidor.Seperti dikatakan Darto (45), salah satu anggota kelompok musik tanjidor Sinar Pemangkat. Keberadaan musik dan kelompok ini sudah sejak dua puluh tahun lalu. Dengan kegigihan orang-orang ini tanjidor masih tetap jaya di Pemangkat dan Kebupaten Sambas. Banyak event yang memang masih menggunakan jasa kelompok ini.

“Sampai sekarang, masih banyak warga yang membutuhkan musik guna mengsisi acara yang sedang dilaksanakannya, seperti pernikahan atau acara lainnya, selain itu juga untuk mengisi kegiatan hari-hari besar, seperti 17 agustusan, atau memperingati hari besar lainnya,” tambahnya.Kelompok tanjidor yang adai,lanjutnya, setiap tampil beranggotakan sembilan orang. Dimana masing-masing sudah memegang alat musik kebiasaanya. Sepertidirinya memegang alat musik alto, kemudian Mahdor (terompet), Hemansyah (terompet), Yusek  (terompet), Tamri (terumbon), Jiren (bas), Joko (tambur), dan Iman (tanji).“Inilah beberapa orang yang sampai sekarang masih menekuni bermain musik tanjidor,” ujarnya.
Setiap akan manggung diacara, lanjutnya, biasanya melakukan latihan terlebih dahulu. Untuk lagu, seperti dalam acara pernikahan yang paling banyak diminati adalah jenis dangdut. Kemudian untuk mengsisi acara resmi, seperti peringatan hari bersejarah, akan dibawakan lagu mars.“Sehingga kami juga sering melakukan latihan bersama untuk menyatukan alat musik, kemudian juga belajar untuk bisa mengiringi lagu-lagu yang sifatnya modern, karena itu untuk memenuhi kebutuhan penikmat musik kami,” paparnya.
Sekali pementasan,lanjutnya, honor yang diterima sekitar Rp600 ribu-Rp1 juta. Itu tergantung dari berapa lama main musik, serta jarak tempuhnya. Kemudian untuk mereparasi alat musik yang dipakai. Biasanya para pemain musik sudah bisa sendiri. Karena memang alat musik yang ada adalah milik pribadi.“Karena memang tidak ada bengkel khusus yang bisa memperbaiki alat musik tanjidor, kemudian kalau untuk mencari alat baru, di daerah ini memang tidak ada lagi, sehingga kami harus mencari ke luar kota terlebih dahulu,” jelasnya.Sebelumnya, lanjut Darto, jenis alat musik tanjidor sudah ditekuni oleh bapaknya. Sehingga secara tidak langsung memberikan pemahaman kepadanya bagaimana bermain alat musik ini. Lama kelamaan ia pun menyenangi dan menggelutinya.
“Bapak saya memang sudah menggeluti jenis musik tanjidor, karena saya masih kecil, bapak merupakan pemain musik tanjidor juga,  alat-alat yang saya pakai juga termasuk dari peninggalan bapak saya yang hingga sekarang terus dipakai,” ulasnya.Ade Gustiansyah, warga Pemangkat menyebutkan bahwa keberadaan musik tanjidor masih diperlukan oleh masyarakat. Karena hingga kini setiap acara pernikahan, misalnya, tanjidor masih digunakan sebagai pengisi untuk meramaikan acara itu.“Masyarakat masih tetap menggunakan musik ini untuk acara-acara penting lainnya, seperti saat diadakan peringatan upacara hari besar nasional,” katanya.(fah)

Lagu sambas

Pooling

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website ini?




Hasil

Sedang Online

Kami memiliki 68 Tamu online

Kunjungan

free counters

You are here: