www.sambas.go.id

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Bersama Wujudkan Sambas Pusat Pendidikan Islam

E-mail Cetak PDF

Sekolah Tinggi Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas yang makin menunjukkan perkembangan baik bertekad mewujudkan Sambas menjadi pusat pendidikan dan peradaban Islam. Keberhasilan sebuah perguruan tinggi dapat dilihat dari kualitas mahasiswanya, yaitu mereka mampu menunjukkan prestasi baik di bidang akademis maupun agama. Hal ini dikatakan Wakil Bupati Sambas DR Pabali Musa M.Ag saat membuka Seminar-Lokakarya Nasional Pengembangan Kurikulum Perguruan Tinggi Agama Islam dan Launcing Program Study baru S1 Sejarah dan Peradaban Islam dan S1 Ilmu Alquran dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas di Aula Kantor Bupati Sambas, Jum’at(29/7).

Narasumber dalam acara tersebut adalah Prof DR Ahmad Sewang MA yang merupakan Guru besar Sejarah dan Peradaban Islam UIAN Alauddin Makasar, Prof DR Muhaimin, MA dan DR H Abdul Mustaqim M.Ag yang dapat memberi masukan dan wawasan bagaimana Kabupaten Sambas dapat menjadi pusat pendidikan dan peradaban islam. “Bagaimanapun Sambas telah dikenal jauh sebelum abad ke-16, jadi dengan menjadikan Sambas pusat pendidikan dan peradaban Islam bukan sesuatu yang mengada-ada tapi melanjutkan peradaban yang telah ada” ujar Wabup di hadapan Wakil ketua STAIS, narasumber, mahasiswa dan udangan yang memenuhi aula kantor Bupati Sambas Wabup mengatakan untuk menjadikan Sambas sebagai pusat pendidikan dan peradaban Islam tidaklah mudah dan menurutnya ada beberapa hal yang harus dicapai agar dapat mewujudkan hal tersebut. “Tantangan terberat dalam menjadikan Sambas pusat pendidikan adalah kondisi masyrakatnya yang harus pembelajar, artinya masyarakat yang mau belajar dan ini dapat dilihat dari semangat membaca dan kedua adalah menulis” ujar Wabup Contohnya budaya membaca al’quran di Sambas lanjut Wabup baru akan terlihat jika ada yang meninggal dan yang banyak berkembang di Sambas adalah budaya bersenandung bukan membaca. “Sambas tidak terkenal dengan sastra tulisan tetapi Sambas terkenal dengan sastra lisan dan ini merupakan hal yang berat yaitu budaya menulis” paparnya Wabup juga mengatakan budaya membaca dan menulis harus dibangun bukan seperti saat ini yang justru berkembang adalah budaya menonton dan ngobrol. “Saya berharap Sekolah Tinggi Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas menjadi pusat percontohan sekolah tinggi yang membudayakan membaca dan menulis dan mahasiswa harus menjadi tolak ukur dan pioner budaya membaca dan menulis” harapnya. Dengan tekad dan semangat yang tinggi serta bersama-sama merubah pola pikir yaitu membangun budaya membaca dan menulis dapat membawa Sambas kedepannya lebih baik. “Mudah-mudahan tekad dan semangat yang telah terbangun sebelumnya dan hari ini dapat kita tingkatkan dapat membawa kedepannya lebih baik”kata Wabup

Lagu sambas

Pooling

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Website ini?




Hasil

Sedang Online

Kami memiliki 56 Tamu online

Kunjungan

free counters

You are here: