Pemerintah Kabupaten Sambas melalui Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappeda kembali melanjutkan rangkaian kegiatan SAFARI (SosiAlisasi FAsilitasi Riset dan Inovasi) dalam program Safari Inovasi Daerah Kabupaten Sambas Tahun 2025. Kali ini, kegiatan berfokus di tiga kecamatan pesisir dan selatan, yakni Kecamatan Tekarang, Kecamatan Jawai, dan Kecamatan Jawai Selatan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pemkab Sambas dalam menyiapkan laporan inovasi daerah yang akan diikutsertakan pada ajang Innovative Government Award (IGA) Tahun 2025 kategori Perbatasan yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Pelaporan dilakukan secara elektronik melalui Aplikasi Inovasi Daerah milik Kemendagri sebagai mekanisme resmi penilaian nasional.
Ketiga kecamatan yang dikunjungi memiliki karakteristik wilayah yang beragam dan potensi yang khas. Kecamatan Tekarang merupakan daerah yang beririsan antara kawasan darat dan pesisir dengan akses transportasi sungai dan laut yang cukup dominan. Kecamatan Jawai dikenal sebagai wilayah agraris dengan potensi hasil pertanian dan hortikultura yang melimpah, khususnya buah naga sebagai komoditas unggulan lokal. Sementara itu, Kecamatan Jawai Selatan memiliki garis pantai yang panjang dan menjadi salah satu kawasan yang potensial dalam pengembangan wisata bahari dan ekonomi kreatif masyarakat.
Dalam rangkaian kegiatan SAFARI ini, tim Litbang Bappeda Sambas berdialog langsung dengan aparat kecamatan untuk mendalami isu-isu aktual serta mengidentifikasi potensi inovasi yang sedang berjalan maupun yang akan dikembangkan.
Di Kecamatan Tekarang, persoalan utama yang dihadapi adalah masih tingginya angka anak putus sekolah. Menyikapi hal tersebut, pihak kecamatan berkomitmen untuk memetakan permasalahan secara komprehensif agar dapat dicarikan solusi inovatif yang relevan. Salah satu program yang telah berjalan baik adalah inovasi Jemput Bola Posyandu, di mana pelayanan kesehatan ibu dan anak dilakukan secara langsung di lapangan untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses. Selain itu, kecamatan juga berencana mengajukan satu inovasi baru yang saat ini sedang disusun dan akan segera disampaikan kepada Bappeda Kabupaten Sambas.
Sementara itu, Kecamatan Jawai menitikberatkan semangat inovasi pada pengembangan potensi lokal berbasis hasil pertanian. Program yang tengah dipersiapkan adalah Sentra Olahan Buah Naga Jawai atau Serona Jawai, yang bertujuan meningkatkan nilai tambah produk pertanian melalui pengolahan buah naga menjadi berbagai olahan siap jual. Upaya ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru, memperkuat ekonomi lokal, serta memperluas pasar produk unggulan Jawai ke tingkat regional.
Adapun Kecamatan Jawai Selatan mengusung konsep inovatif yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui potensi wisata pesisir. Inovasi yang akan dikembangkan adalah Taman Wisata Bahari Kampung Zero Pengangguran, sebuah inisiatif yang melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaan destinasi wisata, pelatihan keterampilan, serta pengembangan usaha mikro. Ide ini lahir dari keinginan kuat untuk menciptakan kawasan yang produktif dan mandiri dengan memanfaatkan potensi bahari serta budaya lokal sebagai daya ungkit ekonomi.
Melalui diskusi yang dilakukan selama SAFARI, tim Litbang Bappeda Sambas menekankan pentingnya setiap kecamatan menggali isu-isu nyata di wilayahnya sebagai dasar perumusan inovasi daerah. Dengan pendekatan berbasis kebutuhan dan karakteristik lokal, diharapkan setiap inovasi yang lahir dapat memberikan solusi yang tepat sasaran, kontekstual, dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bidang Litbang Bappeda Kabupaten Sambas, Deliana R. Prianingsih, S.St.Pi., M.Si,  juga mengingatkan kembali amanat Peraturan Daerah Kabupaten Sambas Nomor 4 Tahun 2023 tentang Inovasi Daerah. Berdasarkan regulasi tersebut, setiap perangkat daerah termasuk kecamatan diwajibkan memiliki paling sedikit satu inovasi yang dapat diukur dan dilaporkan melalui sistem elektronik Kemendagri. Ketentuan ini sejalan dengan upaya nasional untuk memperkuat tata kelola pemerintahan yang kreatif, adaptif, dan berbasis hasil.
Kegiatan SAFARI di tiga kecamatan ini mendapat sambutan positif dari pemerintah kecamatan dan masyarakat setempat. Para camat menyatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman teknis mengenai pelaporan inovasi, tetapi juga menjadi ruang reflektif untuk melihat kembali persoalan wilayah, merancang solusi yang inovatif, serta memperkuat kolaborasi antar unsur pemerintahan di tingkat lokal.
Dengan terus bergulirnya rangkaian Safari Inovasi Daerah di berbagai wilayah, Bappeda Kabupaten Sambas menunjukkan komitmen kuat dalam membangun ekosistem inovasi yang menyeluruh hingga ke tingkat kecamatan. Melalui pendekatan partisipatif dan berbasis isu nyata wilayah, diharapkan setiap daerah dapat melahirkan inovasi yang berkelanjutan, berdaya saing, dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Sambas.